Namun, dalam perkembangannya, permainan ini mulai berubah menjadi aksi tawuran yang membahayakan, terutama ketika sarung diisi dengan benda keras atau bahkan digunakan sebagai alat untuk memancing perkelahian antar kelompok.
Dalam beberapa tahun terakhir, aksi perang sarung semakin marak terjadi dan sering kali berakhir dengan luka-luka hingga konflik lebih besar antar kelompok remaja.
Polisi pun gencar melakukan patroli dan sosialisasi untuk mencegah kejadian ini semakin meluas.
Peran Orang Tua dalam Mencegah Kenakalan Remaja
Fenomena perang sarung yang berujung tawuran menjadi tantangan bagi orang tua dalam mengawasi anak-anaknya, terutama di bulan Ramadan.
Baca Juga: Jadwal dan Harga Tiket Kapal PELNI JakartaPontianak
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah anak terlibat dalam aksi berbahaya:
- Membangun komunikasi yang baik dengan anak agar mereka terbuka tentang aktivitas mereka.
- Mengawasi aktivitas anak pada malam hari, terutama setelah salat Tarawih.
- Mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan positif, seperti pesantren kilat atau kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
- Memberikan pemahaman tentang bahaya tawuran, baik dari sisi hukum maupun dampak sosial yang bisa merugikan diri sendiri dan keluarga.
Upaya Kepolisian dalam Mencegah Tawuran Remaja
Pihak kepolisian terus berupaya menekan angka tawuran remaja, terutama selama Ramadan, dengan langkah-langkah berikut:
- Patroli skala besar untuk mencegah aksi perang sarung dan kenakalan remaja lainnya.
- Pendekatan persuasif dengan memberikan pembinaan kepada remaja yang terlibat.
- Koordinasi dengan sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya tawuran.
Polsek Pontianak Selatan terus berkomitmen menjaga keamanan dengan meningkatkan patroli dan sosialisasi.
Selain penindakan, edukasi kepada remaja dan orang tua menjadi fokus utama dalam mencegah perang sarung dan tawuran.
Diharapkan, dengan kerja sama antara kepolisian, sekolah, serta masyarakat, anak-anak dapat lebih memahami risiko dari kenakalan remaja.
Baca Juga: Jadwal dan Harga Tiket Kapal DLU Ferry Rute Semarang-Pontianak
Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat nilai-nilai positif, bukan ajang untuk melakukan aksi yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Berita Terkait
-
Lebaran Duluan! Umat Islam di Jember Salat Ied Hari Ini
-
Mudik Lebaran Lancar, 3 Jalur Alternatif dari Semarang ke Jombang Bebas Macet
-
Zakat Fitrah Setelah Salat Idul Fitri: Sah atau Haram? Simak Penjelasan Ulama
-
Ramadan Hampir Usai, Saatnya Maksimalkan Amalan dengan Berbagi di Bulan Suci
-
Iklan Pizza Terpanjang di Dunia Tuai Perhatian, Tonjolkan Ukuran Jumbo dengan Saus Menggugah Selera
Terpopuler
- CEK FAKTA: Diskon Listrik 50 Persen Berlaku Lagi, Periode Maret-April 2025
- Pembagian Port Grup Piala Dunia 2026 Dirilis, Ini Posisi Timnas Indonesia
- Masak Rendang 12 Kg, Penampilan BCL di Dapur Jadi Omongan
- Cruiser Matik QJMotor SRV 250 AMT Paling Digandrungi di Indonesia
- Persija Jakarta: Kalau Transfer Fee Oke, Rizky Ridho Mau Ya Silahkan
Pilihan
-
Petaka Mees Hilgers: Cedera Jadi Kontroversi Kini Nilai Pasar Terus Turun
-
Potret Denny Landzaat Salam-salaman di Gereja Saat Lebaran 2025
-
Media Belanda: Timnas Indonesia Dapat Amunisi Tambahan, Tristan Gooijer
-
Jumlah Kendaraan 'Mudik' Tinggalkan Jabodetabek Tahun Ini Meningkat Dibandingkan 2024
-
PSSI Rayu Tristan Gooijer Mau Dinaturalisasi Perkuat Timnas Indonesia
Terkini
-
Detik-Detik Perkelahian Maut di Sungai Rengas yang Membuat Pemuda 24 Tahun Meregang Nyawa
-
Tips Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah Ramadan dan Pentingnya Puasa Syawal
-
BRImo Hadirkan Kemudahan Transaksi Digital Sepanjang Libur Lebaran 2025
-
Komitmen Perluas Inklusi Keuangan, 1 Juta AgenBRILink BRI Siap Tangani Transaksi dan Pembayaran
-
Keutamaan Malam Terakhir Ramadan dan Amalan Terbaik di Penghujung Bulan Suci