Rocky Gerung: Jokowi Jadi Wakil Presiden di 2024

Rocky Gerung mengklaim mendengar prediksi itu dari seorang politisi Golkar.

Pebriansyah Ariefana | Hernawan
Kamis, 05 November 2020 | 07:32 WIB
Rocky Gerung: Jokowi Jadi Wakil Presiden di 2024
Presiden Joko Widodo (dok. presidenri.go.id)

SuaraKalbar.id - Rocky Gerung memprediksi Jokowi menjadi wakil presiden dari Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Lho kok bisa?

Awalnya berasal dari pemikir politik Rocky Gerung. Bisa jadi pada Pilpres 2024, Jokowi akan kembali menjadi peserta tapi sebagai calon wakil presiden.

Rocky Gerung mengklaim mendengar prediksi itu dari seorang politisi Golkar.

Jokowi dimungkinkan menjadi cawapres mendampingi Menteri koordinator Perekonomian sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Baca Juga:Fadli Zon: Harusnya Yunarto Dkk Bantu Joe Biden Kemarin, Pasti Menang Telak

Hal tersebut diungkapkan Rocky ketika diundang sebagai narasumber oleh politikus Partai Gerindra Fadli Zon dalam wawancara yang dilansir akun YouTube Fadli Zon Official, Selasa (3/11/2020).

Rocky Gerung berdiskusi dengan Fadli Zon. (YouTube/Fadli Zon Official)
Rocky Gerung berdiskusi dengan Fadli Zon. (YouTube/Fadli Zon Official)

"Saya dengar keterangan dari seorang politisi, dari Golkar, Nababan. Dia bilang begini. Nanti 2024, yang layak jadi presiden adalah Airlangga. Lalu nanti wapresnya Pak jokowi," kata Rocky Gerung.

Untuk diketahui, Rocky mengutarakan hal tersebut dalam konteks menerangkan sirkulasi elite pemimpin di Indonesia masih belum berubah, yakni masih di lingkaran elite politik kekinian.

"Jadi, memang agak bercanda. Tapi sebetulnya kan, bawah sadarnya kan ingin mengatakan sirkulasinya di sekitar itu saja," kata Rocky meneruskan.

Rocky menyampaikan hal tersebut untuk menanggapi pertanyaan Fadli Zon, yang mempersoalkan perbedaan politik Indonesia pada masa revolusi dan era awal kemerdekaan, dengan situasi elite kontemporer.

Baca Juga:Ide Bung Karno Cuma Jadi Lip Service, Rocky Gerung: Rezim Ini Anti Pikiran

Menurut Fadli Zon, pada era dulu, elite politik selalu bertarung pada tataran ideologi, konsepsi filosofis. Pendek kata, politikus zaman dulu selalu sekaligus sebagai pemikir.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini