SBY Curhat, Ruhut: Ibarat Menepuk Air di Dulang Terpercik Muka Sendiri

Ruhut Sitompul memberikan sindiran pedas.

Husna Rahmayunita
Jum'at, 19 Maret 2021 | 10:56 WIB
SBY Curhat, Ruhut: Ibarat Menepuk Air di Dulang Terpercik Muka Sendiri
Podcast SBY (Youtube/Susilo Bambang Yudhoyono)

Isi karyanya tersebut merupakan keresahan hati yang ia rasakan karena kemelut yang sedang terjadi di internal Partai Demokrat.

Dalam cerita puitisnya tersebut, SBY menyinggung soal sahabat yang tega melukai dirinya. Padahal sama-sama berjuang membesarkan partai sejak puluhan lalu.

“Perbuatan dan perlakuan sejumlah sahabat yang sangat melukaiku. Juga melukai orang-orang yang setia, yang mencintai dan berjuang di sebuah perserikatan partai politik, yang selama 20 tahun aku juga ikut bersamanya. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan bahwa itu bakal terjadi,” tulisnya

Selengkapnya, berikut tulisan SBY.

Baca Juga:SBY Curhat, Dilukai Sahabat Hingga Sebut Cikeas Bagai Kota Mati

KEBENARAN & KEADILAN DATANGNYA SERING LAMBAT, TAPI PASTI

 
Oleh: Susilo Bambang Yudhoyono

Malam itu Cikeas bagai kota mati. Atau seperti dusun kecil yang terbentang di kaki bukit yang sunyi. Suasana sungguh mencekam, hening dan sepi.

Ketika kubuka jendela di dekat sajadah mendiang istriku, yang sedikit lusuh namun menyimpan kenangan yang teramat dalam, yang kini menjadi teman setiaku ketika aku bersujud ke pangkuan Illahi, di kejauhan kupandangi langit yang pekat kehitaman. Tak ada cahaya rembulan atau gemerlapnya bintang-bintang. Rintik hujan yang turun sejak senja haripun kini telah pergi. Tinggal derak pohon dan dedaunan yang terdengar lirih berdesir… pertanda angin malam masih menyapa dan menghampiri.

Kututup kembali jendela tua di kamarku, dan aku mencoba untuk merebahkan diriku di ranjang, mengingat jam dinding telah menunjukkan angka dua belas. Namun, entah mengapa, sulit sekali memejamkan kedua mataku. Hatiku terjaga, pikiranku mengembara.

Baca Juga:Sosok Moeldoko Dipilih Ketum Demokrat, Wasekjend: Moeldoko Bisa Hadapi SBY

Aku bangkit kembali dari tempat tidurku, dan duduk di kursi coklat tua tepat di depan televisi lamaku. Sepertinya, aku harus menata hati dan pikiranku yang tiba-tiba terbang ke mana-mana.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini