facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Banjir Pesanan Dupa Jelang Imlek, Harjono Sempat Sulit Mendapatkan Bahan Baku, Pesan Lem Hingga ke Thailand

Bella Kamis, 27 Januari 2022 | 18:44 WIB

Banjir Pesanan Dupa Jelang Imlek, Harjono Sempat Sulit Mendapatkan Bahan Baku, Pesan Lem Hingga ke Thailand
Bentuk dupa pada proses penjemuran hingga siap di pasarkan./Rabiansyah

Pandemi sempat membuat dirinya mengalami penurunan omzet sebanyak 70 persen pada 1 tahun yang lalu

SuaraKalbar.id - Meski permintaan dupa kian meningkat jelang perayaan Imlek, namun ketersediaan bahan baku yang sulit didapat menjadi kendala bagi para pengrajin dupa di Pontianak, Kalimantan Barat.

Seorang pengrajin dupa, Hajono menyebut jika saat ini dirinya hanya fokus ke pembuatan dupa dengan ukuran besar, karena dirinya menganggap proses pembuatan dupa ukuran besar tak serumit dupa yang berukuran kecil.

"Saya sempat mengalami kesulitan bahan pokok yakni seperti lidi, tepung angin pialit, kalsium, dan juga lemnya, nah barang-barang tersebut saya pesan dari luar pulau Kalimantan, seperti lidi saya pesan dari Malang, tepung angin dari Semarang, kalsium dari Jakarta, dan lemnya dari Thailand," jelasnya, Kamis (27/1/2022).

Hajono mengaku, sudah membuat dupa dengan berbagai macam ukuran kurang lebih selama 4 tahun dan telah melewati macam-macam lika liku terkait bisnis pembuatan dupa.

Baca Juga: Mendapat Dorongan Partai Maju Sebagai Calon Wali Kota Pontianak, Ketua DPW PKS Kalbar Arif Joni Prasetyo Mengaku Siap

"Proses penjemuran lagi kita kejar untuk Cap Go Meh dengan Imlek. L ika-liku seperti cuaca yang saya alami seperti cuaca yang saat ini susah di prediksi," terangnya.

Pandemi sempat membuat dirinya mengalami penurunan omzet sebanyak 70 persen pada 1 tahun yang lalu, untuk itu dirinya tak berputus asa dan tetap fokus menjalani usaha yang telah di jalaninya selama kurang lebih 4 tahunan.

Pada tahun 2022 ini, dirinya mulai bangkit dari semangat akibat kebanjiran orderan dupa yang berukuran besar.

Hajono menyebut sehari dirinya bisa menghasilkan 1200 batang dupa yang berukuran besar, jika lembur dirinya bisa memproduksi sebanyak 2000 hingga 3000 batang perharinya.

"Untuk harga dupa nya 350 rupiah per batang dan kalau yang kecil 1 kilo 22 ribu dan saya tidak menjual ke toko-toko tetapi saya menjual ke konsumen seperti agen yang memang sudah berlangganan dengan saya selama saya membuat dupa, alasan saya tidak jual ke toko-toko yakni saya pernah jual ke toko-toko dan saya di komplain dengan agen besar," terangnya.

Baca Juga: Jelang Imlek, Pedagang Musiman di Glodok Mulai Jajakan Perlengkapan dan Pernak-pernik

Akibat teguran itu, Hajono akhirnya memutuskan untuk menjual langsung duoa buatannya kepada konsumen.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait