facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Harga TBS Sawit Anjlok, Pemerintah Percepat Ekspor CPO

Bella Kamis, 07 Juli 2022 | 05:00 WIB

Harga TBS Sawit Anjlok, Pemerintah Percepat Ekspor CPO
Ilustrasi sawit, Warga di Siak membenahi kelapa sawit usai dipanen. [Suara.com/Alfat Handri]

Kalau ekspor lancar, maka pabrik-pabrik bisa mengosongkan tangkinya. Kalau tangki sudah kosong, maka perusahaan akan berebut membeli tandan buah segar

SuaraKalbar.id - Harga tandan buah segar (TBS) sawit di beberapa wilayah Indonesia mengalami penurunan yang cukup tajam.

Di Kalimantan Barat misalnya, harga TBS di tingkat petani sempat menyentuh angka Rp 800 per kilogram.

Keadaan tersebut membuat para petani sawit kelabakan, terlebih harga pupuk justru mengalami kenaikan.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Indonesia akan mendorong percepatan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Baca Juga: Waduh! Harga Sawit Anjlok, Petani Desak Pemerintah untuk Bertindak

Hal tersebut bertujuan untuk mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan kebijakan pelarangan ekspor CPO beberapa waktu lalu telah membuat stok minyak sawit mentah melimpah di dalam negeri yang membuat harga TBS anjlok, sehingga ekspor CPO harus ditingkatkan agar perusahaan dapat mengoptimalkan penyerapan sawit petani.

"Kalau ekspor lancar, maka pabrik-pabrik bisa mengosongkan tangkinya. Kalau tangki sudah kosong, maka perusahaan akan berebut membeli tandan buah segar," ujarnya di Jakarta, Selasa.

Melansir Antara, berdasarkan data Kementerian Perdagangan per 4 Juli 2022, persetujuan ekspor CPO, RBD Palm Oil, RBD Palm Olein, dan UCO program percepatan melalui skema DMO Simirah tercatat mencapai 1,31 juta ton dengan angka realisasi sebesar 65,91 persen atau 885.500 ton, sehingga volume yang belum terealisasi ada sebanyak 434.067 ton.

Sementara itu, persetujuan ekspor CPO, RBD Palm Oil, RBD Palm Olein, dan UCO program percepatan melalui skema flush out ada sebanyak 1,09 juta ton dengan persentase realisasi sebanyak 645.327 ton atau setara 49,51 persen, sehingga volume yang belum terealisasi ada sebanyak 447.563 ton.

Baca Juga: Gubernur Sutarmidji: Tidak Ada Lagi Status Desa Sangat Tertinggal di Kalbar

"Rata-rata (ekspor) baru 60-an persen, jadi belum habis. Kami sekarang percepat dengan menaikkan skema, kalau kemarin DMO 1:5 sekarang 1:7, kalau dikemas akan kami tinggikan lagi menjadi 1:1," kata Zulkifli.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait