Tasmalinda
Rabu, 20 Mei 2026 | 22:58 WIB
ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Kalimantan Barat jdi penyumbang titik panas terbesar nasional, Karhutla dikhawatirkan meluas
Baca 10 detik
  • Walhi dan Pantau Gambut mendeteksi 26.484 titik panas di ekosistem gambut Indonesia selama Januari hingga April 2026.
  • Kalimantan Barat menjadi wilayah paling terdampak dengan sebagian besar titik panas berada di area konsesi perusahaan besar.
  • Lemahnya perlindungan ekosistem gambut dan alih fungsi lahan dinilai menjadi pemicu utama kebakaran hutan yang terus berulang.

Menurutnya, aktivitas PT Mayawana Persada dan PT Equator Sumber Rezeki yang membuka sekitar 6.758,3 hektare lahan telah menggusur habitat orangutan dan memperbesar ancaman kerusakan gambut di Kalimantan Barat.

Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan, Raden Rafiq mengatakan kawasan gambut di area konsesi juga kerap memicu konflik agraria dan kebakaran berulang akibat praktik pengeringan lahan untuk kepentingan bisnis skala besar.

“Masyarakat lokal yang mengelola gambut secara lestari justru tersingkir dan dikriminalisasi, sementara perusahaan yang melakukan pembakaran sering luput dari penegakan hukum,” katanya.

Pantau Gambut menilai penanganan karhutla selama ini masih bersifat insidental dan lebih fokus pada pemadaman saat kebakaran terjadi, tanpa menyentuh akar persoalan berupa perlindungan ekosistem gambut.

Indonesia sendiri memiliki sekitar 13,43 juta hektare lahan gambut tropis yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Kawasan tersebut menyimpan sekitar 57 gigaton karbon atau sekitar 30 persen cadangan karbon dunia, sehingga dinilai memiliki peran penting dalam pengendalian perubahan iklim global.

Load More