- Masyarakat membangun Rumah Radakng Samilik di Pontianak Utara sebagai simbol identitas budaya Dayak dengan estimasi biaya Rp1,5 miliar.
- Proyek pembangunan ini terlaksana melalui semangat gotong royong, donasi swadaya masyarakat, serta dukungan penuh Pemerintah Kota Pontianak.
- Rumah adat ini berfungsi sebagai pusat kegiatan budaya inklusif guna melestarikan tradisi bagi generasi mendatang di tengah modernisasi.
SuaraKalbar.id - Di tengah geliat pembangunan kota, Pontianak Utara menyimpan sebuah cerita yang berbeda. Bukan tentang gedung modern atau pusat bisnis, melainkan tentang upaya merawat akar budaya yang nyaris tergerus zaman. Di sanalah Rumah Radakng Samilik mulai dibangun, bukan sekadar rumah adat, tetapi simbol identitas yang hidup.
Angka Rp1,5 miliar yang disebut sebagai estimasi biaya pembangunan mungkin terdengar besar di permukaan. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, nilai itu tak hanya berbicara soal fisik bangunan, melainkan tentang makna yang ingin dijaga.
Rumah Radakng Samilik dirancang sebagai ruang bersama masyarakat Dayak. Di tempat ini, tradisi tidak hanya dikenang, tetapi dijalankan dari ritual adat, pertemuan komunitas, hingga kegiatan sosial yang memperkuat ikatan antargenerasi. Ia menjadi semacam “rumah besar” yang menghidupkan kembali nilai kebersamaan.
Keunikan lainnya terletak pada semangat yang melatarbelakanginya. Pembangunan ini tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah, melainkan bertumpu pada gotong royong, donasi, dan swadaya masyarakat. Artinya, setiap bagian dari bangunan ini membawa jejak partisipasi banyak orang yakni bukan sekadar proyek, tetapi gerakan bersama.
Baca Juga:Ratusan Burung Langka Nyaris Diselundupkan dari Pontianak ke Surabaya
Dukungan dari Pemerintah Kota Pontianak, termasuk Wali Kota Edi Rusdi Kamtono, semakin memperkuat langkah tersebut. Pemerintah melihat pembangunan ini sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap relevan di tengah perkembangan kota.
Namun yang membuat Radakng Samilik berbeda bukan hanya pada fungsinya, melainkan pada visinya. Rumah adat ini diharapkan menjadi pusat aktivitas budaya yang terbuka yakni bukan eksklusif, melainkan inklusif. Siapa pun bisa datang, belajar, dan memahami kekayaan budaya Dayak secara langsung.
Dalam konteks itu, angka Rp1,5 miliar menjadi lebih mudah dipahami. Ia mencerminkan bukan hanya biaya pembangunan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menjaga identitas budaya.
Di tengah arus modernisasi, kehadiran Rumah Radakng Samilik seperti pengingat bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan tradisi. Justru, dari akar budaya itulah sebuah kota menemukan jati dirinya.
Dan mungkin, di situlah letak keunikan sesungguhnya, Radakng Samilik bukan hanya dibangun dari material, tetapi dari harapan agar budaya tetap hidup, bukan sekadar dikenang.
Baca Juga:Pemuda di Pontianak Utara Tendang Ibu Kandung Karena Tidak Diberi Uang Rp 100 Ribu