Tasmalinda
Senin, 13 April 2026 | 22:31 WIB
Ilustrasi tato pada Suku Dayak Bahau, Telingan Aaru. [Ist]
Baca 10 detik
  • Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat menggunakan tato sebagai simbol identitas diri, kedudukan sosial, serta rekam jejak perjalanan hidup seseorang.
  • Tato dianggap sebagai bekal spiritual berupa cahaya penuntun bagi roh manusia dalam menempuh perjalanan setelah kematian tiba.
  • Setiap motif tato tradisional Dayak memiliki filosofi mendalam dan dibuat melalui rangkaian ritual adat sebagai bentuk permohonan izin.

SuaraKalbar.id - Di tengah tren tato modern yang kini identik dengan gaya hidup dan estetika, masyarakat Dayak di Kalimantan Barat justru telah lebih dulu memaknai tato sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam: identitas, perjalanan hidup, hingga simbol spiritual yang sakral.

Bagi suku Dayak, tato bukan sekadar hiasan tubuh. Setiap guratan memiliki arti, setiap pola menyimpan kisah, dan setiap titik tinta adalah rekam jejak kehidupan seseorang.

Dalam tradisi Dayak, tato atau yang dikenal sebagai tedak bukanlah sesuatu yang bisa dibuat sembarangan. Tato menjadi penanda identitas seseorang—mulai dari asal suku, kedudukan sosial, hingga pencapaian hidup.

Misalnya, seseorang yang telah melakukan perjalanan jauh atau berjasa bagi komunitasnya berhak mendapatkan motif tertentu. Semakin kompleks dan banyak tato yang dimiliki, biasanya menunjukkan semakin tinggi pula status atau pengalaman hidup orang tersebut.

Yang membuat tato Dayak berbeda adalah nilai spiritual yang melekat kuat. Tato dipercaya sebagai “bekal” menuju kehidupan setelah kematian.

Dalam kepercayaan tradisional, roh manusia akan melakukan perjalanan panjang setelah meninggal. Tato yang terukir di tubuh dipercaya akan menjadi cahaya penuntun di alam baka. Tanpa tato, perjalanan tersebut diyakini akan lebih gelap dan sulit.

Itulah sebabnya, proses pembuatan tato tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui ritual tertentu yang sarat makna.

Berbagai macam motif tato Dayak Iban. [Ist]

Setiap Motif Punya Cerita

Motif tato Dayak tidak dibuat asal indah. Setiap pola memiliki filosofi mendalam, di antaranya motif bunga terung: melambangkan awal perjalanan hidup, biasanya untuk pemuda yang mulai merantau, motif burung enggang: simbol kehormatan, kepemimpinan, dan dunia atas.

Baca Juga: Bukan Sekadar Rumah Adat Dayak, Radakng Samilik Dibangun Rp1,5 Miliar, Ini Keunikannya

Sedangkan motif naga atau aso: penjaga kekuatan dan pelindung dari roh jahat, motif garis dan lengkungan: menggambarkan perjalanan hidup yang tidak selalu lurus.

Karena itu, tato Dayak bisa dibaca layaknya “biografi hidup” seseorang yang cukup dengan melihat tubuhnya.

Pembuatan tato tradisional Dayak dilakukan dengan alat sederhana, seperti jarum dan pewarna alami dari tumbuhan. Namun yang membuatnya istimewa adalah proses ritualnya.

Biasanya, sebelum tato dibuat, dilakukan upacara adat sebagai bentuk permohonan izin kepada leluhur. Proses ini bisa memakan waktu lama dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Rasa sakit dalam proses tersebut juga dianggap sebagai bagian dari ujian mental dan kedewasaan.

Seiring perkembangan zaman, tato Dayak mulai dikenal luas dan bahkan menjadi inspirasi dunia tattoo art modern. Banyak orang luar Kalimantan yang tertarik mengadopsi motifnya.

Load More