"Masalah sawit itu kalau udah waktunya panen, harus panen gak bisa dibiarkan begitu. Istilahnya tingkat kematangannya udah sampai untuk dipanen itu kalau kita biarkan mana pengaruh sama perkembangan sawitnya malah rusak nanti," bebernya.
Ia mengaku, hanya bisa pasrah atas kondisi yang menimpa. Tetap menjual buah hasil kebun sawit miliknya meskipun dalam hitungan rugi.
"Tetap kita jual meskipun hitungan rugi," sautnya.
Ia meminta, pemerintah dapat memberikan solusi serta memgeluarkan kebijakan secara responsif, pada situasi global saat ini.
"Kalau biasanya saya sistem kerjanya ada upah orang untuk manen, sekarang harga turun kita panen sendiri, semua dikerjakan sendiri, kita harap agar pemerintah bisa nolong petani sawit ini agar harga bisa kembali normal,"katanya.
Sementara itu, petani lainnya, Angga mengungkapkan, turunnya harga TBS tersebut berdampak besar bagi para petani.
"Tentunya dari turunnya harga ini berdampak besar bagi kami , sebagai pekebun sawit," jelasnya.
Turunnya harga TBS, katanya, tak diimbangi dengan harga pupuk yang kian mahal. Apalagi, saat ini harga buah sawit dari yang sebelumnya Rp 2.200 per kilogram, turun drastis menjadi Rp 1.050 per kilogram.
"Apalagi kenaikan harga pupuk tidak diimbangi dengan harga jual sawit. Menderita petani, jual salah, tak jual rugi,"ujarnya.
Baca Juga:Sutarmidji Ingatkan Atlet Popda Kalbar 2022 Jaga Sportivitas
Harga Pupuk Sawit Naik