- Mendagri Tito Karnavian mengajak warga menghidupkan kembali siskamling.
- Ajakan tersebut menuai sindiran pedas dari aktivis dan warganet.
- Publik menilai keamanan adalah tanggung jawab utama dari pemerintah.
SuaraKalbar.id - Seruan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian untuk membangkitkan kembali sistem keamanan lingkungan alias siskamling di seluruh Indonesia, memicu perdebatan sengit di ruang publik.
Di satu sisi, ajakan ini dibingkai sebagai upaya gotong royong menjaga stabilitas, terutama setelah kerusuhan pada akhir Agustus 2025.
Namun di sisi lain, langkah ini menuai sindiran pedas dari publik.
Warganet menyoroti bagaimana siskamling bisa menangkap maling uang rakyat alias koruptor yang notabene adalah pejabat negara?
"Yang buat masalah, pejabat negara atas ketidaktertiban negeri ini, yang maling mereka, yang buat sengsara rakyat mereka, terus rakyat disuruh siskamling, udah capek, jenuh, muak, rayat yang selalu jadi sasaran," kritik pengguna X, Senin (15/9/2025).
Lalu ada pula yang menyindir rakyat disuruh siskamling setelah lelah bekerja, tapi para pegawai negeri bisa enak-enakan.
"Sudah capek kerja, ngantuk, kok jaga. Siskamling di kantor-kantor saja. Pegawai pemerintah yang suka ngopi-ngopi disuruh kerja," kata pengguna X lainnya.
Ada pula yang menyoroti anjuran Tito itu dengan menyorot kenaikan dana anggaran untuk Polri.
"Warga yang diminta siskamling, Polri yang naik anggarannya."
Baca Juga: Heboh 2 Pulau di Kalimantan Barat Dipindah ke Kepulauan Riau, Apa yang Terjadi?
Jurnalis sekaligus aktivis lingkungan, Dandhy Laksono, menganggap ide Tito sebagai cara pemerintah untuk lepas tangan dari tanggung jawab.
Melalui akun media sosial X (dulu Twitter) pribadinya, Dandhy Laksono melontarkan kritik singkat namun tajam yang langsung viral.
Menanggapi berita tentang ajakan Mendagri tersebut, ia menulis sebuah kalimat satir yang menyentil.
“Biar pejabat bisa tidur nyenyak,” tulis Dhandy pada Jumat (12/9/2025).
Cuitan ini, meskipun pendek, menyiratkan sebuah pandangan kritis yang lebih dalam: bahwa beban untuk menjaga keamanan kini seolah dilimpahkan kepada warga, sementara para pejabat sebagai penyelenggara negara bisa beristirahat dengan tenang.
Sindiran ini dengan cepat menjadi representasi suara skeptis dari sebagian masyarakat yang mempertanyakan esensi dari kebijakan tersebut.
Berita Terkait
-
Heboh 2 Pulau di Kalimantan Barat Dipindah ke Kepulauan Riau, Apa yang Terjadi?
-
Mendagri Izinkan Pemda Kembali Gelar Kegiatan di Hotel dan Restoran: Tolong Pakai Perasaan!
-
Berkaca dari Kedatangan Pengungsi Rohingya di Aceh, Jokowi Serius Tangani Masalah Perbatasan Kalbar
-
Cegah Inflasi di Kalbar, Gubernur Sutarmidji Minta Satgas Pangan Intensifkan Pantau Harga Sembako
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
Terkini
-
BRI Raih 4 Penghargaan, Perkuat Komitmen Dukung Digitalisasi dan UMKM
-
BRI Konsisten Buyback Saham untuk Optimalkan Nilai Pemegang Saham
-
Sempat Mangkir, Pamar Lubis Kini Ditahan Polda Kalbar
-
BRI Buka Peluang Karier Bagi Talenta Muda Lewat Program Magang Nasional
-
BRI Rayakan Perjalanan 131 Tahun dengan Semangat Kolaborasi dan Kepedulian