Ajakan Mendagri dan Kenangan PAM Swakarsa
Sebelumnya, dalam kunjungan kerja di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Kamis (11/9/2025), Mendagri Tito Karnavian dengan penuh semangat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menggalakkan Siskamling.
Menurutnya, sistem keamanan berbasis partisipasi warga ini adalah warisan positif yang harus dilestarikan.
“Mari bersama-sama menjaga stabilitas keamanan negara. Siskamling ini sistem yang sangat bagus dari dulu, dulu namanya PAM Swakarsa. Kalau ada yang sudah lama tidak berjalan, ya perlu waktu juga dilakukan penyesuaian kembali,” kata Tito.
Mantan Kapolri ini juga tidak hanya sekadar mengajak. Ia menginstruksikan agar pemerintah daerah, bersama TNI dan Polri, aktif membina dan mengawasi pelaksanaannya.
Tito bahkan mendorong para kepala daerah untuk turun langsung ke lapangan.
“Saya tentu mengharapkan gubernur, wali kota, dan bupati bisa turun langsung mengecek pos-pos Siskamling. Nanti malam saya juga akan cek beberapa pos supaya masyarakat semakin termotivasi,” ujarnya.
Menurut Tito, meskipun keamanan adalah tugas negara, pada hakikatnya ia merupakan tanggung jawab bersama.
“Ini untuk kepentingan masyarakat sendiri, menjaga lingkungan masing-masing,” tambahnya.
Tapi, penyebutan istilah "PAM Swakarsa" oleh Tito turut membangkitkan memori kolektif yang kurang mengenakkan bagi sebagian kalangan, terutama para aktivis pro-demokrasi.
Baca Juga: Heboh 2 Pulau di Kalimantan Barat Dipindah ke Kepulauan Riau, Apa yang Terjadi?
PAM Swakarsa memiliki rekam jejak historis yang kelam pada era Reformasi 1998, di mana kelompok ini seringkali diasosiasikan dengan milisi sipil yang rentan dipolitisasi.
Debat Tanggung Jawab: Negara atau Warga?
Sindiran warganet secara efektif membuka kotak pandora perdebatan fundamental: di mana batas antara partisipasi warga dan tanggung jawab mutlak negara dalam menjamin keamanan?
Bagi pendukung gagasan siskamling, ini adalah wujud nyata dari ketahanan sosial dan kepedulian komunal.
Warga secara aktif melindungi lingkungannya sendiri, menciptakan efek gentar bagi pelaku kejahatan, dan memperkuat ikatan sosial.
Namun, bagi kelompok yang skeptis, ajakan ini bisa dilihat sebagai sebuah pengakuan tersirat bahwa aparat keamanan negara belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Berita Terkait
-
Heboh 2 Pulau di Kalimantan Barat Dipindah ke Kepulauan Riau, Apa yang Terjadi?
-
Mendagri Izinkan Pemda Kembali Gelar Kegiatan di Hotel dan Restoran: Tolong Pakai Perasaan!
-
Berkaca dari Kedatangan Pengungsi Rohingya di Aceh, Jokowi Serius Tangani Masalah Perbatasan Kalbar
-
Cegah Inflasi di Kalbar, Gubernur Sutarmidji Minta Satgas Pangan Intensifkan Pantau Harga Sembako
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Rekomendasi Sepeda Wimcycle Termurah untuk Dewasa, Solusi Olahraga Hemat
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Skincare Rp50 Ribuan Ini Diam-Diam Dipakai Banyak Orang, Hasilnya Disebut Mirip Brand Jutaan
-
Mana Lebih Hemat? Adu Harga Sembako Pontianak vs Kuching, Hasilnya Tak Terduga
-
AJI Pontianak Soroti Nasib Pekerja Media di May Day, Kesejahteraan Masih Rentan
-
Tengkawang dari Hutan Kalimantan Kini Diburu Brand Dunia, Ini Manfaatnya untuk Kulit dan Rambut
-
Dari Upah Layak hingga Outsourcing, Ini 10 Tuntutan Buruh Kalbar di May Day