Wakos Reza Gautama
Kamis, 23 April 2026 | 11:17 WIB
Ilustrasi Romi Wijaya. Bupati Kayong Utara Romi Wijaya menyebut pertumbuhan ekonomi Kayong Utara mengalami kenaikan signifikan dimana pada tahun 2025 mencatatkan angka pertumbuhan sebesar 5,89 persen, yang juga sekaligus merupakan pertumbuhan tertinggi sepanjang lima tahun terakhir. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Kabupaten Kayong Utara mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,89 persen pada tahun 2025 berkat Kawasan Industri Pulau Penebang.
  • Kehadiran proyek strategis nasional tersebut berhasil menurunkan angka kemiskinan menjadi 8,75 persen dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia.
  • Bupati Romi Wijaya menargetkan penguatan Pendapatan Asli Daerah melalui optimalisasi sektor pertanian, perikanan, UMKM, dan pariwisata lokal.

SuaraKalbar.id - Ada gairah baru yang terpancar dari pesisir Kabupaten Kayong Utara. Daerah yang dulunya tenang kini tengah bertransformasi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi paling menjanjikan di Kalimantan Barat.

Bukan sekadar isapan jempol, angka-angka statistik berbicara jujur. Kayong Utara sukses mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,89 persen pada tahun 2025, pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Apa rahasianya? Jawabannya tertuju pada satu titik di peta yaitu Pulau Penebang. Kehadiran Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) yang dikelola oleh PT Dharma Inti Bersama telah menjadi "game changer" bagi wajah ekonomi daerah.

Proyek Strategis Nasional (PSN) ini bukan sekadar deretan pabrik, melainkan pusat pengolahan dan pemurnian bijih bauksit yang terintegrasi untuk menghasilkan alumina dan aluminium secara berkelanjutan.

Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, dalam forum Musrenbang RKPD 2027 di hadapan Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, mengonfirmasi bahwa investasi raksasa ini adalah motor utama di balik melejitnya angka 5,89 persen tersebut.

"Pertumbuhan ekonomi Kayong Utara mengalami kenaikan signifikan, dan keberadaan PSN di Pulau Penebang berkontribusi besar pada pencapaian ini," ujarnya, Jumat (10/4/2026).

Ekonomi yang tumbuh tinggi tak akan berarti jika tak menyentuh kantong rakyat kecil. Namun di Kayong Utara, dampak positif itu mulai terasa. Angka kemiskinan yang semula berada di angka 9,56 persen pada 2020, menyusut menjadi 8,75 persen di tahun 2025.

Tak hanya itu, kualitas hidup manusia di Bumi Bertuah ini juga merangkak naik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melonjak dari 62,66 poin (2019) menjadi 67,60 poin pada 2025.

Meski masih di bawah rata-rata provinsi, tren ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dan reformasi birokrasi mulai memberikan hasil nyata.

Baca Juga: Aktivitas Tambang Pasir Ilegal di Pangkalan Buton Cemari Sungai, Budidaya Ikan Lumpuh!

Namun, di balik gemerlap angka pertumbuhan, terselip sebuah tantangan besar yang harus dihadapi. Kayong Utara masih "bergantung pada nafas" dari pemerintah pusat dan provinsi.

Data mengungkapkan fakta yang kontras. Sekitar 95 persen pendapatan daerah masih berasal dari dana transfer, sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru mampu menyumbang sekitar 5 persen.

Kemandirian fiskal inilah yang kini menjadi prioritas Romi Wijaya. Ia sadar, Kayong Utara tidak bisa selamanya bergantung pada pusat. Sektor-sektor lokal seperti pertanian, perikanan, UMKM, hingga pariwisata harus segera "naik kelas" menjadi tulang punggung baru yang memperkuat kemandirian daerah.

"Pertumbuhan ekonomi ke depan tidak hanya harus tinggi, tapi juga berkualitas dan merata," tegas Romi.

Menutup narasinya di forum Musrenbang, Romi mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak berpuas diri dengan angka-angka hari ini.

Baginya, angka 5,89 persen hanyalah awal. Target besarnya adalah memastikan industri di Pulau Penebang bersinergi dengan potensi alam lainnya untuk menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan bagi putra daerah.

Load More