“Struktur ekosistem di laut ini kan ada 4 ekosistem penting kan. Ada mangrove, lamun, terumbu karang dan estuari. Mangrovenya rusak karena daratannya rusak maka akan mempengaruhi yang lainnya. Ketika mempengaruhi yang lainnya, terutama lamun dan terumbu karang tempat berkembang kebiasaan ikan, tangkapan nelayan, mempengaruhi lautnya juga pasti,” tambahnya.
Meskipun demikian, Setra menerangkan ia belum mampu mengukur seberapa besar kerusakan yang akan terjadi nanti. Meskipun demikian, hal tersebut turut didukung oleh pernyataan Arie Antasari Kushadiwijayanto, Ketua Jurusan Kajian Hosenografi Pesisir FMIPA Universitas Tanjungpura Pontianak.
Arie menerangkan masih belum bisa mengukur kerusakan yang terjadi karena menganggap Pulau Gelam merupakan daerah konservasi yang cukup ‘perawan’ dan belum pernah diteliti oleh ahli. Namun meskipun demikian, Arie membenarkan bahwa akan ada dampak negatif jika kawasan konservasi berubah fungsi menjadi kawasan lain.
“Persoalan ini harus dikawal baik-baik karena ngeri untuk dijadikan kawasan tambang. Kita sulit untuk berpikir bahwa ada pertambangan, maka ekosistem akan baik-baik saja,” ujar Arie saat ditemui di ruangannya.
Baca Juga:Nelayan Perempuan Pulau Gelam Paling Terancam Tambang
Kehadiran pertambangan pasir kuarsa, dinilai memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap nelayan, khususnya jika berbicara soal penghasilan pendapatan nelayan kedepan.
“Daya dukung lingkungan akan turun, penghasilan masyarakan turun karena ada sebagian masyarakat yang menggantungkan penghasilan mereka di situ juga. Daya tangkap akan juga berkurang apa lagi nelayan dari daerah sana itu kalau tidak salah bukan nelayan besar yang berangkat pagi itu sorenya pulang,” terang Arie.
Kendati demikian, Arie berharap pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap peneliti terkait kawasan konservasi, terkhususnya di Pulau Gelam.
“Tentunya kita sangat berharap jika kawasan konservasi ditetapkan, minta kepada pihak terkait segera dibuat stasiun penelitian di sana, sehingga memudahkan dan mengundang peneliti dari seluruh negeri ke situ. Jadi isunya akan lebih kuat,” pungkasnya.
Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Barat Sempat Kawal Penolakan Kehadiran Tambang di Pulau Gelam
Menyinggung soal kehadiran pertambangan pasir kuarsa di Pulau Gelam, Seorang anggota DPR RI Dapil Kalimantan Barat, Daniel Johan ternyata sempat mengawal terkait hal tersebut apalagi menyadari bahwa Pulau tersebut memang benar masuk ke kawasan konservasi.
Baca Juga:Pulau Gelam Ditambang, Penyu Ikut Terancam Menghilang
“Kita sudah kawal masalah ini sejak awal tahun lalu. Harapannya adalah harapan rakyat, harapan nelayan agar kawasan Pulau Gelam tetap utuh, tidak dilakukan ekploitasi hanya karena alasan investasi. Tapi, kita mempertahankannya karena alasan lingkungan, kepentingan masyarakat khususnya nelayan sekitar,” ujar Daniel.