Pulau Gelam: Pasir Kuarsa akan Ditambang, Nelayan Tradisional Terancam

Kita ini kan selaku masyarakat gak izinkan, cuma sepertinya ada yang tersembunyi, ada yang merasa berkuasa disitu jadi dia ngizinkan,

Bella
Rabu, 14 Februari 2024 | 15:05 WIB
Pulau Gelam: Pasir Kuarsa akan Ditambang, Nelayan Tradisional Terancam
Potret aktivitas nelayan Cempedak. (Tim Liputan Investigasi)

“Kurang tahu sih kedepannya lagi, dikatakan ada atau gak ada saya gak tahu juga karena kedepannya kita kan gak tahu juga. Tapi mau diapakanlah, kita istilahnya orang gak mampu, pandai-pandai orang yang berkuasalah. Pasrah,” ucap Samsul dengan melempar senyum canggung.

Tak Ingin Pulau Gelam Seperti Pulau Bawal

Tak jauh dari Pulau Cempedak, terdapat satu pulau bernama Pulau Bawal yang berjarak 30 menit hingga 1 jam perjalanan menggunakan lepeh.

Para nelayan mengakui, dahulu pulau tersebut sempat menjadi salah satu tempat pencarian utama para nelayan karena jaraknya yang cukup dekat dan banyaknya jumlah hasil tangkapan.

“Dulu pas ada rumput laut atau padang lamun (di Pulau Bawal), paling enak cari ikan, ranjungan, paling nyaman pokoknya,” ungkap Sindro semangat mengingat masa ‘kejayaan’ pulau Bawal.

Baca Juga:Nelayan Perempuan Pulau Gelam Paling Terancam Tambang

Sayangnya, sejak berdirinya perusahaan sawit di Pulau bawal pada tahun 2007, hasil tangkapan masyarakat nelayan mengalami perubahan drastis yang akhirnya menyebabkan mereka tak lagi mencari hasil tangkapan disekitaran pulau tersebut.

“Semejak ada sawit di bawal (jadi tipis lamun) sekarang di bawal udah gak ada lamun lagi, udah rusak. Kalau lamun nih buat nelayan mudah, ikan, ranjungan, paling mudah. Kalau cari 20 kg mudah kalau lamunnya bagus. Kita aja kadang-kadang gak mampu. Saya pernah dapat ikan semua terus gak berani lagi, saya pindah pasang jaring cari yang agak kurang ikannya tuh karena gak sanggup,” jelas Salmin antusias.

Sindro mengakui hasil tangkapan di pulau Bawal bahkan kini telah kosong, sehingga tak ada lagi yang bisa ia jual ketika mencari sesuap nasi di perairan sekitar pulau tersebut.

“Pas buka sawit, nelayan turun kelaut, mati dah. Kalau di pulau Gelam sih (hasil tangkapan) masih stabil, pulau Bawal yang gak ada, kosong dah. Susah ikan buat laut, apalagi jual,” tambah Sindro melanjutkan ucapan sebelumnya.

Berkaca dari penampakan Pulau Bawal saat ini, tak jarang dari para nelayan Cempedak tersebut memiliki secerca harapan kecil. Mereka tak ingin Pulau Gelam yang menjadi salah satu tempat mata pencaharian mereka saat ini ikut rusak seperti Pulau Bawal karena kehadiran perusahaan. Kemungkinan terjadinya kerusakan pulau Gelam, dianggap bagai ancaman terhadap jarak tempuh yang akan semakin jauh bagi nelayan.

Baca Juga:Pulau Gelam Ditambang, Penyu Ikut Terancam Menghilang

“Takut nasibnya Pulau Gelam sama kayak pulau Bawal. Gak tahu mau melaut kemana lagi sama nasibnya. Biasa cuma melaut daerah-daerah sini aja, paling jauh pulau Gelam, udah lepas pulau Gelam itu hitungannya laut jauh, daerah Air Hitam tapi belum pernah kesitu, paling ke pulau Penambun, pulaunya kecil, susah berlindung kalau ada angin, gelombangnya besar,” ujar Sindro kemudian diam.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini