Di perairan pulau tersebut, Salmin menyebutkan terdapat banyak jenis ikan bernilai ekonomi tinggi, selain ranjungan dan lobster. Hal inilah yang membuat setidaknya 40 Kepala Keluarga (KK) yang ada di Pulau Cempedak memiliki jaring khusus penangkap ranjungan dan lobster.
“Kalau di Pulau Gelam jenis tangkapannya ada ikan, ranjungan, lobster. Ikannya banyak jenis. Banyak ikan Debam (baronang),” ucap Salmin.
Nelayan lainnya, Samsul (40), mengatakan Pulau Gelam menjadi pusat pencarian nelayan pada setiap bulan Juni, Juli dan Agustus, yang disebutnya menjadi musim banyaknya hasil laut.
“Ada semua ikan di Gelam tuh. Ikan dibam itu dia musimnya bulan 6, kita cuma susuri bakau (mangrove) aja itu udah dapat. Lobster, kakap putih, kakap merah, dibam itu baru ada kalau lagi musim-musim air keruh, itu musimnya di bulan 6,7,8,” kata Samsul sambil menyeruput minuman yang tengah ia pegang.
Baca Juga:Nelayan Perempuan Pulau Gelam Paling Terancam Tambang
Dengan antusias, Samsul bercerita ia pernah mendapatkan hingga jutaan rupiah ketika melaut di sekitar Pulau Gelam bermodalkan ongkos ratusan ribu.
“Kemarin ada 4 bulan yang kami cari agak ngenak tuh, lobster ada, ranjungan ada, ikan juga ada. Kadang-kadang dapatlah Rp 3 juta. Ongkosnya gak banyak paling Rp 800 ribu,” tambahnya.
Seorang nelayan lain, Sindro (46) yang berasal dari Jakarta dan kini mengikuti sang istri menetap di Pulau Cempedak menyebutkan bahwa ia sangat sering pergi mencari ikan di Pulau Gelam khusus untuk menangkap lobster karena dinilai memiliki harga yang cukup fantastis.
“Ke Pulau Gelam tangkapannya cuma cari lobster, kebetulan harganya tinggi jadi kita ngejar. Saya biasa belasan kilo dapatnya. Satu kilo itu harganya Rp 250 ribu,” ujar Sindro antusias.
Kembali ke Salmin. Ia, bercerita bahwa Gelam menjadi pusat mata pencaharian hampir keseluruhan nelayan. Namun meskipun demikian, perjuangan mencari hasil tangkapan di Pulau itu tak mudah. Mereka kerap harus menginap bahkan membawa serta istri dan anak karena mengingat lokasi Pulau Gelam yang berjarak 2 jam perjalanan dari Pulau Cempedak.
Baca Juga:Pulau Gelam Ditambang, Penyu Ikut Terancam Menghilang
Jarak tempuh yang cukup jauh, membuat sejumlah nelayan di Pulau Cempedak memilih menginap demi mengakali ongkos jarak tempuh. Bahkan, Salmin mengaku dirinya sempat memiliki rumah di pulau konservasi tersebut selama dua tahun.