Pulau Gelam: Pasir Kuarsa akan Ditambang, Nelayan Tradisional Terancam

Kita ini kan selaku masyarakat gak izinkan, cuma sepertinya ada yang tersembunyi, ada yang merasa berkuasa disitu jadi dia ngizinkan,

Bella
Rabu, 14 Februari 2024 | 15:05 WIB
Pulau Gelam: Pasir Kuarsa akan Ditambang, Nelayan Tradisional Terancam
Potret aktivitas nelayan Cempedak. (Tim Liputan Investigasi)

“Dulu pernah sempat tinggal lama di Pulau Gelam sama istri, sekitar dua tahun lebih dan punya rumah disana. Cuma sekarang kalau ke Gelam untuk nangkap ikan itu nginap 3-4 malam,” terang Salmin.

Memutuskan untuk pindah, Salmin menjelaskan ia dan istrinya akhirnya menetap ke Cempedak demi mendapatkan fasilitas yang lebih mudah diraih dari perkotaan.

“Dulu pindah dari pulau Gelam ke Cempedak karena dulu cuma ada perahu layar, gak ada mesin, pakai angin dan gayung. Akhirnya orang tua kasihan juga anaknya kalau sakit kan susah. Akhirnya carilah pulau ini gak ada penghuninya. Akhirnya mampir nelayan 1-2 orang, kemudian nambah penduduk dari pulau Gelam pindah kesini sampai sekarang,” jelasnya.

Mencari sesuap nasi bagi nelayan Cempedak di Pulau Gelam, tampaknya merupakan hal yang biasa dengan serta membawa anak dan istri. Begitu pun bagi Samsul dan Sindro.

Baca Juga:Nelayan Perempuan Pulau Gelam Paling Terancam Tambang

“Saya kadang cuma dua malam ke Gelam sendiri, tapi biasanya bawa istri dan anak, berangkut kesana bisa empat sampai lima malam. Selama di Gelam tidurnya kadang di perahu, atau bikin pondok di darat pulau,” ujar Samsul.

“Biasa melaut sama istri, sama anak yang kecil karena kita pergi sana bermalam. Kakaknya ditinggal karena udah besar. Istri gak pernah tinggal, kemana-mana saya ngelaut dia pasti ikut,” saut Sindro tertawa.

Berbicara soal hasil tangkapan, nelayan-nelayan di Cempedak itu memiliki sejumlah cara untuk menjual hasil tangkapannya, yaitu kadang-kadang langsung ke Kecamatan Kendawangan.

Namun, sering pula menjual kepada beberapa agen yang ada di Cempedak. Salah satu di antaranya kepada Hartono (40), ketua RT 02 kala itu. Pria yang akrab disapa sebagai Tono tersebut diketahui cukup terkenal sebagai local hero Cempedak karena menjadi agen sekaligus pembina bagi para nelayan tradisional Cempedak.

Berprofesi berdasarkan kemauannya kurang lebih selama 4 tahun, menjadi seorang agen sekaligus pembina merupakan tantangan tersendiri bagi Tono yang harus siap turut menyediakan segala keperluan setidaknya 20 nelayan binaannya.

Baca Juga:Pulau Gelam Ditambang, Penyu Ikut Terancam Menghilang

“Saya juga harus membina masyarakat setempat dengan membantu mereka memodali supaya mereka bisa berkegiatan, disamping mereka berkegiatan nelayan kita bina mereka yang fasilitasnya belum lengkap kita lengkapi,” terang Tono tenang saat dijumpai dikediamannya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini