Terancam Tambang Pasir Kuarsa: Perjalanan Sehari Bersama Nelayan Tradisional ke Pulau Gelam

Kami harus mencari ikan lebih jauh dan membutuhkan BBM yang semakin banyak dengan biaya yang tinggi dan tidak sebanding dari hasil tangkapan

Bella
Kamis, 15 Februari 2024 | 17:58 WIB
Terancam Tambang Pasir Kuarsa: Perjalanan Sehari Bersama Nelayan Tradisional ke Pulau Gelam
Potret aktivitas nelayan Cempedak. (Tim Liputan Investigasi)

Di belakang pondok utama terdapat pondok pengolahan sampel, terlihat beberapa plastik berisi pasir, diikat dengan pita jingga. Tampak alat las di dalamnya. Di bawah kamp utama terdapat tumpukan pipa besi yang digunakan untuk mesin bor mengambil pasir.

Setelah berkeliling di sekitar kamp perusahaan, kami kembali naik lepeh, Salmin mengajak untuk melihat hutan mangrove yang terdapat di Gelam. Sambil menyisir hutan mangrove, tampak akar tunjang dengan batang pohon yang berdiameter 5 cm memenuhi sebagian pesisir pulau Gelam.

“Di sini rumahnya ikan, seperti jenis libam dan baronang yang paling banyak ditangkap oleh nelayan,” ungkap Salmin kepada saya.

Tak menunggu lama setelah menyusuri hutan mangrove, akhirnya tim kami tergoda dengan birunya air laut yang terlihat sampai kedasar. Sambil mengenakan perlengkapan snorkeling, tak lupa salah satu dari kami membawa kamera poket underwater untuk mengabadikan keindahaan bawah laut pulau gelam. Ia langsung melompat dari lepeh untuk memuaskan rasa penasaran.

Baca Juga:Pulau Gelam: Pasir Kuarsa akan Ditambang, Nelayan Tradisional Terancam

Keindahan bawah air laut di pesisir Kendawangan memang tidak bisa dibandingkan dengan pesisir laut lainnya yang ada di Kalimantan Barat, ekositem terumbu karang dan padang lamun masih sangat mudah untuk dinikmati. Seekor ikan kecil berwarna kuning setia menemaninya menyelam kurang lebih 1 jam.

Tiba-tiba dari balik terumbu karang, ia melihat seekor penyu hijau muda sedang bersembunyi, dengan cekatan lantas mengharahkan kamera poketnya dan klik………!!!! Momen yang tak bisa ia ungkapkan itu terekam dalam memori kamera poket.

Sambil naik ke permukaan tim kami tersebut kemudian berteriak ke arah lepeh dengan mengangkat kamera poket.

“Penyu…..Penyu….. Saya dapat penyu”, teriaknya senang berhasil mengabadikan potret seekor penyu di dasar laut.

Setelah puas bersnorkling ria di pesisir Gelam, tim kami kemudian naik kedalam lepeh sambil merenung dan memandangi sekitar pulau Gelam, bagaimana nasibnya pulau Gelam jika perusahan tambang beraktivitas disana, mungkin tidak ada lagi penyu, terumbu karang, padang lamun dan juga aktivitas nelayan-nelayan kecil.

Baca Juga:Nelayan Perempuan Pulau Gelam Paling Terancam Tambang

Yang ada dalam pikiran kami, kelak Gelam akan dipenuhi tongkang-tongkang pengangkut pasir dengan air yang keruh serta pohon mangrove yang rusak.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini